Hasil renungan
Berpasangan ibarat membeli barang yang lama diimpikan
Ketika barang tersebut sudah ditangan,
Maka hal pertama yang dilakukan pastilah mulai mengenali
Apakah sesuai dengan bayangan seperti selama ini?
Apakah semua komponen barang bisa berfungsi?
Apakah bisa dipergunakan dengan mudah tanpa membuat sulit?
Apakah bisa dijadikan alat bantu untuk selalu menemani?
Jika jawaban semua itu adalah tidak,
Maka mengapa masih saja dipertahankan di tangan?
Bukankah lebih baik disingkirkan?
Atau berikan ke orang yang mau memanfaatkan komponen2 yang masih bisa digunakan?
Daripada hanya menjadi barang rongsokan yang kotor, berdebu, terpinggirkan,
Atau mencoba untuk diperbaiki di berbagai tempat?
Yang akhirnya cuma menjadikan barang itu menjadi semakin tidak berguna
Karena komponen-komponennya semakin tercerai berai, terpisahkan
Sama, ketika ternyata pasangan adalah bukan orang yang selama ini diimpikan
Kenapa mesti dipertahankan?
Kalau memang sudah tidak sesuai dengan impian, kenapa mesti disakiti fisik dan perasaan?
Apakah hanya untuk melampiaskan kekecewaan?
Atau untuk menyamarkan amarah?
Atau memang untuk menunjukkan kebencian yang teramat sangat?
Jangan lakukan !
Karena semuanya hanya akan membuat pasangan semakin merasa tersingkirkan, terabaikan, tak berguna dan merasa memang pantas hanya menjadi sampah
Akan jauh lebih baik, perlakukan seperti barang tak sesuai impian
Segera lepaskan, karena itu juga akan membuat keduanya menjadi lebih ringan melangkah
Walaupun awalnya akan membuat hati menjadi lebih tersiksa dan tak biasa
Tapi lebih baik sebelum segalanya menjadi ‘binasa’……………..
(renungan: ketika begitu banyak proses perpisahan menjadi ajang caci maki, buka aib dan lahan untuk menebar benci serta amarah dari dan untuk pasangan yang dulu amat sangat mencinta………Kemana cinta itu pergi?)